Sumber Ilmu

Sumber pengetahuan adalah tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta, yang ada dalam diri manusia sendiri, dalam sejarah, atau dalam berbagai peristiwa sosial dan berbagai aspek bangsa dan masyarakat, dalam akal atau prinsip-prinsip yang sudah jelas dan di dalam hati .

Sumber Imu secara umum, yaitu:

Sumber-sumber ilmu pengetahuan itu secara garis besar ada tiga, yaitu alam semesta (alam fisik), Alam akal (nalar) dan Hati (intuisi dan ilham) .

A. Alam Semesta (Alam Fisik)
Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif. Hubungan manusia dengan materi , menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra, karena sesuatu yang materi tidak bisa diubah menjadi yang tidak materi . Contoh yang paling nyata dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, seperti makan, minum, dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam semesta yang materi merupakan sumber pengetahuan yang paling awal dan indra merupakan alat untuk mendapatkan pengetahuan dari alam fisik ini .
Pengetahuan yang bersumber dari indra-indra lahiriah seperti hasil dari melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa adalah suatu jenis pengenalan dan pemahaman yang bersifat lahiriah, permukaan, dan tidak mendalam. Berhubungan dengan alat dan sumber pengetahuan ini tidak terdapat perbedaan antara manusia dan hewan, karena keduanya sama-sama dapat melihat, mencium, merasa, dan mendengar, bahkan pada sebagian binatang mempunyai indra yang sangat kuat dan tajam dibanding manusia.
Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam fisik. Pengetahuan indrawi bersifat parsial, disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Masing-masing indra menangkap objek atau sesuatu yang berbeda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu, oleh karena itu, secara objektif, pengetahuan yang ditangkap satu indra saja, tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh . Namun pengetahuan indrawi menjadi sangat penting karena bertindak sebagai pintu gerbang pertama menuju pengetahuan yang lebih utuh. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (Analityca Posteriora). Benda-benda alam seperti bumi, langit, matahari, lautan, dan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia dengan indra disebut sebagai hal yang dapat disimpulkan atau dipersepsi .

B. Alam Akal (Nalar)
Kaum Rasionalis, selain alam semesta atau alam fisik, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya, dan untuk meng-generalisasi-kan indra juga dibutuhkan akal.
Alam akal digolongkan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan karena :
1. Dalam pemikiran, Akal menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.
2. Mengetahui konsep-konsep yang general. Mengatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman ke dalam benak, dan penyimpulan.
3. Pengelompokkan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, apakah benda itu bersifat cair atau keras, dan lain sebagainya.Pemilahan dan Penguraian.
4. Akal dapat menggabungan dan dapat menyusun. Akal juga dapat memilah dan menguraikan.
5. Kreativitas. Dalam hal ini, akal dapat bersifat membangun dan mengeluarkan pendapat atau pemikiran dalam mengefisiankan sesuatu.
Sebagian konsepsi-konsepsi dan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tidak mungkin bersumber dari indra dan empiris, melainkan hanya dapat diperoleh dengan perantaraan akal dan rasio, seperti konsepsi-konsepsi tentang Tuhan, jiwa, dan yang sejenisnya. Menurut Imam Khomeni, manusia secara fitri bersandar pada argumentasi akal dan demonstrasi rasional, yakni fitrah manusia tunduk pada dalil dan burhan akal. Itulah fitrah yang dikhususkan bagi manusia dan tidak ada perubahan dalam penciptaan Tuhan.
Al-Ghazali mengatakan, bahwa akal juga termasuk sumber ilmu pengetahuan sekaligus sebagai alat mencapai pengetahuan,. Akal itu sebagai kekuatan fitri sehingga membuat manusia lebih tinngi dibandingkan dengan hewan. Diperjelas dalam karyanya Ihya ‘Ulum Ad-din bahwa yang menjadi jiwa rasional adalah akal . Sama halnya menurut Immanuel Kant bahwa Akal mengucapkan putusan-putusan. Artinya, akal menyimpulkan yang ditangkap oleh indra, bagaimanakah sifat, bentuk, kandungan dan proses yang ada pada objek atau sesuatu yang ditangkap oleh indra tersebut .

C. Hati (Intuisi dan Ilham)
Kaum empiris memandang bahwa sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang inmateri tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosofi) yang meyakini bahwa ada sesuatu hal yang lebih luas dari sekedar materi, mereka meyakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal dan hati. Hati dapat merasakan sesuatu hal lain yang bukan bersifat materi, tetapi merasakan apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya sendiri seperti rasa sakit, rasa lapar, dan sebagainya. Seperti yang tertulis di batu nisan kant, bahwa “Ada dua hal yang sangat mengundang decak kagum manusia, yaitu langit berbintang di atas kepala kita, dan hati nurani di dalam diri kita . Intinya, Kant sendiri meyakini bahwa yang merupakan sumber ilmu pengetahuan selain alam semesta adalah hati. Menurut Henry Bergson, Intuisi adalah semacam kekuatan rohani atau tenaga rohani untuk menyelami hakikat segala kenyataan yang tentunya telah mendapat kesadaran diri .

Tidak ada komentar